Reviewmu.com Paid Review Indonesia Adsense Indonesia
Tampilkan postingan dengan label Musi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Musi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Desember 2008

MASJID AGUNG PALEMBANG

Masjid Agung Palembang pada mulanya disebut Masjid Sultan dan dibangun pada tahun 1738 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo. Peresmian pemakaian masjid ini dilakukan pada tanggal 28 Jumadil Awal 1151 H (26 Mei 1748). Ukuran bangunan mesjid waktu pertama dibangun semula seluas 1080 meter persegi dengan daya tampung 1200 jemaah. Perluasan pertama dilakukan dengan wakaf Sayid Umar bin Muhammad Assegaf Altoha dan Sayid Achmad bin Syech Sahab yang dilaksanakan pada tahun 1897 dibawah pimpinan Pangeran Nataagama Karta mangala Mustafa Ibnu Raden Kamaluddin.



Pada awal pembangunannya (1738-1748), sebagaimana masjid-masjid tua di Indonesia, Mesjid Sultan ini pada awalnya tidak mempunyai menara. Kemudian pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Najamudin (1758-1774) barulah dibangun menara yang letaknya agak terpisah di sebelah barat. Bentuk menaranya seperti pada menara bangunan kelenteng dengan bentuk atapnya berujung melengkung. Pada bagian luar badan menara terdapat teras berpagar yang mengelilingi bagian badan.
Bentuk masjid yang sekarang dikenal dengan nama Masjid Agung, jauh berbeda tidak seperti yang kita lihat sekarang. Bentuk yang sekarang ini telah mengalami berkali-kali perombakan dan perluasan. Pada mulanya perbaikan dilakukan oleh pemerintah Belanda setelah terjadi perang besar tahun 1819 dan 1821. Setelah dilakukan perbaikan kemudian dilakukan penambahan/perluasan pada tahun 1893, 1916, 1950-an, 1970-an, dan terakhir pada tahun 1990-an. Pada pekerjaan renovasi dan pembangunan tahun 1970-an oleh Pertamina, dilakukan juga pembangunan menara sehingga mencapai bentuknya yang sekarang. Menara asli dengan atapnya yang bergaya Cina tidak dirobohkan.

Perluasan kedua kali pada tahun 1930. tahun 1952 dilakukan lagi perluasan oleh Yayasan Masjid Agung yang pada tahun 1966-1969 membangun tambahan lantai kedua sehingga luas mesjid sampai sekarang 5520 meter persegi dengan daya tampung 7.750.



Masjid Agung merupakan masjid tua dan sangat penting dalam sejarah Palembang. Masjid yang berusia sekitar 259 tahun itu terletak di Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Barat I, tepat di pertemuan antara Jalan Merdeka dan Jalan Sudirman, pusat Kota Palembang. Tak jauh dari situ, ada Jembatan Ampera. Masjid dan jembatan itu telah menjadi land mark kota hingga sekarang.

Dalam sejarahnya, masjid yang berada di pusat kerajaan itu menjadi pusat kajian Islam yang melahirkan sejumlah ulama penting pada zamannya. Syekh Abdus Samad al-Palembani, Kemas Fachruddin, dan Syihabuddin bin Abdullah adalah beberapa ulama yang berkecimpung di masjid itu dan memiliki peran penting dalam praksis dan wacana Islam.

http://www.palembang.masjiddigital.info/sejarah.php

Selasa, 02 Desember 2008

AMPERA, Golden Gate-nya Indonesia

Ini dia Golden Gate nya Indonesia, Ampera, yup...landmark Kota Palembang tercinta, apalagi klo dilihat waktu malem...indah skaleeeeeeeeee. Nih cerita awalnya...sejarah x ye...





Gagasan untuk membangun jembatan untuk menyatukan daerah hulu dan hilir atau dikenal sebagai "Seberang Ulu dan Seberang Ilir," yang telah dipisahkan oleh Sungai Musi di Palembang sebenarnya telah ada sejak 1906. Ketika Le Cocq de Ville menjadi walikota Palembang pada tahun 1924, ide ini muncul lagi dan banyak upaya dilakukan untuk membuat ide ini menjadi kenyataan. Namun bahkan sampai akhir Le Cocq waktu itu tidak dapat tercapai. Jembatan yang tidak pernah dibangun selama penjajahan Belanda. Setelah diperoleh dengan Kemerdekaan Indonesia, ide muncul sekali lagi. Dalam sesi pleno pada 29 Oktober 1956, Transisi Daerah DPR untuk kota Palembang diusulkan untuk membangun jembatan. Kemudian disebut Jembatan Musi karena membelah sepanjang Sungai Musi. Proposal ini dianggap gegabah karena anggaran yang tersedia hanya Rp 30.000,00. Pada 1957, komite yang dibentuk, yang terdiri dari laksamana Komandan Militer untuk Wilayah IV / Sriwijaya, Harun Sohar, dan gubernur Sumatera Selatan, HA Bastari, walikota Palembang, M. Ali Amin, dan Indra Caya. Tim ini mendekati Bung Karno agar mereka bisa mendapatkan dukungan untuk membangun jembatan. Sehubungan dengan upaya pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan pemerintah Palembang, yang didukung sepenuhnya oleh Komandan Militer dari Wilayah IV / Sriwijaya, mereka mendapat respon positif. Bung Karno menyetujui proposal untuk membangun Jembatan Musi. Dia setuju karena posisi jembatan yang akan di pusat kota. Bung Karno menetapkan satu kondisi untuk perjanjian ini. Pada setiap akhir jembatan, jalan raya yang harus dibangun. Maka perusahaan yang ditunjuk pemerintah untuk melaksanakan pembangunan dengan menandatangani kontrak dengan perusahaan yang pada 14 Desember 1961. Biayanya USD 4.500.000 (mata uang saat itu adalah USD 1 = Rp 200,00). Biaya ini akan dibayar untuk reparations perang dari Jepang. Proyek ini dimulai pada bulan April 1962 dan selesai pada bulan Mei 1965. Tetapi masyarakat Palembang menyebutnya Ampera Jembatan Musi Proyek sampai akhir tahun 1970an. Jembatan, yang merupakan konstruksi baja diperkuat oleh kabel baja, 1.100 meter panjang 22 meter dan lebar. Enam kaki yang telah dikuburkan sedalam 75 meter. Ada dua menara di atasnya dengan ketinggian 75 meter. Jarak antara menara adalah 71,5 meter. Bagian tengah dari jembatan adalah 11,5 dari meter air saat air surut dan 8 meter saat air pasang. Tengah bagian dari jembatan bisa naik ketika sebuah kapal ingin melewati, dan naik hingga 63 meter dari air. Hanya dengan kapal dari ketinggian 9 meter untuk 44,5 meter dan lebar 60 meter bisa lewat. Untuk mengangkat 994 ton, dua ballasts dari 450 ton digunakan pada dua menara. Kecepatan jembatan dapat di buka adalah 10 meter per detik.




Nah, klo yang ini Ampera jadul banget...