Reviewmu.com Paid Review Indonesia Adsense Indonesia

Kamis, 04 Desember 2008

Pempek, Makanan Mantap Khas Palembang

Siapa sih yang tidak kenal pempek atau empek2 ini, makanan asli Palembang yang memiliki rasa luar biasa...he...




Pempek atau Empek-empek adalah makanan khas Palembang yang terbuat dari ikan dan sagu. Sebenarnya sulit untuk mengatakan bahwa pempek adalah pusatnya adalah Palembang karena hampir di semua daerah di Sumatera Selatan memproduksinya.
Jenis pempek yang terkenal adalah "pempek kapal selam" adalah telur ayam yang dibungkus dengan adonan pempek dan digoreng dalam minyak panas. Ada juga yang lain seperti pempek lenjer, pempek bulat (atau terkenal dengan nama "ada'an"), pempek kulit ikan, pempek pistel (isinya irisan pepaya muda rebus yang sudah dibumbui), pempek telur kecil, dan pempek keriting.
Menurut sejarahnya, pempek telah ada di Palembang sejak masuknya perantau Cina ke Palembang, yaitu di sekitar abad ke-16, saat Sultan Mahmud Badaruddin II berkuasa di kesultanan Palembang-Darussalam. Nama empek-empek atau pempek diyakini berasal dari sebutan "apek", yaitu sebutan untuk lelaki tua keturunan Cina.



Berdasar cerita rakyat, sekitar tahun 1617 seorang apek berusia 65 tahun yang tinggal di daerah Perakitan (tepian Sungai Musi) merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah di Sungai Musi. Hasil tangkapan itu belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik, hanya sebatas digoreng dan dipindang. Si apek kemudian mencoba alternatif pengolahan lain. Ia mencampur daging ikan giling dengan tepung tapioka, sehingga dihasilkan makanan baru. Makanan baru tersebut dijajakan oleh para apek dengan bersepeda keliling kota. Oleh karena penjualnya dipanggil dengan sebutan "pek … apek", maka makanan tersebut akhirnya dikenal sebagai empek-empek atau pempek.

Sebetulnya kalau udah ngomong tentang pempek itu gak ada habisnya deh...gak bosen juga makannya...
Waduh...jadi ngiler nih... :-)

Kain Songket Palembang




Sehelai kain tenun songket dari Palembang, mempunyai banyak makna, dan mempunyai nilai sejarah. Kain ini mungkin sebagai peninggalan nenek moyang si pemilik yang ditenun selama satu tahun, mungkin sebagai mahar, mungkin sebagai busana kebesaran adat pengantin , mungkin sebagai benda koleksi keluarga yang berharga, dan masih banyak lagi kemungkinan yang lain.

Kain tenun songket Palembang ini, sangat menarik, ditelusuri sejarahnya, maknanya, dan teknik pembuatannya. Kalau kita menilik warnanya yang khas, dan motif hiasnya yang indah, pastilah kita berkesimpulan bahwa songket ini dibuat dengan keterampilan, ketelatenan, kesabaran,dan daya kreasi yang tinggi.Marilah kita "melongok" bagaimana kain tersebut dibuat, sedikit sejarahnya dan tentang motif hiasnya.



Sejarah Kain Tenun

Seperti seni tenun daerah lainnya di nusantara kita, kain songket Palembang ini tidak diketahui persis kapan mulai dikerjakan. Untuk keperluan busana, mula-mula digunakan sebagai bahan dasar kulit kayu, kemudian rajutan daun-daun, dan yang terakhir ditanam kapas untuk dibuat benang sebagai bahan dasar kain tenun.

Palembang yang terletak di pulau Sumatra bagian Selatan ini dahulu menjadi pusat kerajaan Sriwijaya yang menjadi pintu masuk berbagai budaya dari manca negara. Mula-mula datang bangsa Portugis, kemudian bangsa India yang terakhir bangsa Cina. Pada abad ketujuh sampai abad kesebelas Masehi kerajaan Sriwijaya sedang jaya - jayanya dengan pelabuhannya yang ramai. Kecuali menjadi pusat perdagangan, Sriwijaya juga menjadi pusat agama Budha. Pusat kerajaan Sriwijaya, sekarang kota Palembang, merupakan tempat persinggahan pendeta dari Srilangka dan India yang akan pergi ke Cina. Itulah sebabnya budaya India ikut mempengaruhi motif hias kain songket Palembang.

Disamping itu pengaruh dari Cina juga melekat pada seni tenun Palembang terutama pada penerapan warna merah dan warna keemasan pada kain songket.

Karena adanya pengaruh budaya dari luar tadi terciptalah kain tenun dari Sriwijaya yang sangat indah dan bervariasi. Dengan demikian kain songket ini termasuk hasil budaya daerah yang harus dilestarikan .( Anur E Mulhadiono )

Tips Untuk Memelihara Songket Palembang ;

1. Kain songket sebaiknya digulung mengelilingi batang pralon atau karton seperti menyimpan tekstil modern tetapi kain songket hendaknya dilapisi dahulu dengan kertas minyak, kertas roti atau kertas kopi. Jangan sekali-kali menggunakan kertas koran.
2. Kain dibungkus plastik disimpan dalam lemari dan diletakkan berdiri atau miring.
3. Lemari penyimpanan di beri butir-butir lada atau cengkeh yang ditakuti rayap atau ngengat.
4. Kain tidak boleh di dry clean atau di laundry jadi hanya diangin-anginkan.

Selasa, 02 Desember 2008

Pulau Kemaro, Legenda Cinta Abadi

Salah satu objek wisata di Palembang adalah Pulau Kemaro...



Pulau Kemaro menyimpan legenda tentang cinta yang abadi. Legenda itu semakin kental terasa dengan keberadaan pohon cinta yang terletak di belakang pagoda.

TIAP kali perayaan Cap Go Meh (malam ke-15 Tahun Baru Imlek) tiba, ribuan warga Tionghoa dalam dan luar negeri berduyun-duyun mengunjungi Pulau Kemaro, pulau yang membelah Sungai Musi, di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Bukan hanya umat Budha Tridharma yang datang berkunjung, tidak sedikit umat Muslim pun ikut menyambangi pulau yang juga dikenal sebagai 'Pulau Jodoh' ini.

Pulau Kemaro adalah satu obyek wisata religius di Kota Palembang. Pulau ini memiliki luas 5 hektare dan letaknya sekitar 3 mil di sebelah hilir Jembatan Ampera, Palembang. Akar budaya dan legenda yang terkandung di dalamnya menjadi magnet yang mampu menarik minat banyak orang.

Pada malam perayaan Cap Go Meh, suasana di Pulau Kemaro bak pasar malam di negeri Tirai Bambu. Kedai makanan dan minuman sengaja didirikan untuk menjamu para tetamu yang datang dari Cina, Jepang, Singapura, Vietnam, dan Malaysia. Pengunjung semakin dimanjakan karena disediakan jembatan ponton untuk menyeberangi Sungai Musi.



Malam kian semarak oleh lampion merah dan atraksi barongsai. Jangan heran kalau para remaja datang dengan misi ganda. Untuk beribadah dan mencari jodoh. Mereka saling berkenalan dengan lawan jenis, mojok di kedai, lantas bertukar nomor ponsel. Pertemuan selanjutnya diatur kemudian.



Keberadaan Kelenteng Hok Cang Bio yang dibangun sejak tahun 1962 --sebelumnya kelenteng ini hanya berupa bangunan gubuk--memiliki makna ritual yang tinggi bagi penganut Tridarma. Begitu juga makam buyut Siti Fatimah yang dipercaya sebagai lambang cinta sejati. Sehari sebelum perayaan Cap Go Meh, panitia memotong kambing hitam di dekat makam itu.

Perlambang cinta yang abadi semakin kental terasa dengan keberadaan pohon cinta yang terletak di belakang pagoda. Sebagai pelengkap, Yayasan Pulau Kemaro saat ini sedang membangun satu pagoda delapan tingkat.

Suasana


SEJUK terasa di bawah rindangnya puluhan pohon angsana raksasa. Perahu getek merupakan salah satu alat transportasi sungai yang dapat digunakan untuk mencapai Pulau Kemaro. Terbuat dari kayu dengan panjang sekitar empat meter, perahu ini digerakkan oleh mesin motor.

Pada Zaman Kesutanan Palembang, di bawah kepemimpinan Sultan Mahmud Badaruddin I dan II, Pulau Kemaro adalah benteng pertahanan sewaktu melawan penjajah. Pada zaman itu pula Pulau Kemaro disebut Benteng Tameng Ratu yang dikomandoi Pangeran Ratu.

Pasca launching program Visit Musi 2008, 5 Januari lalu, Pulau Kemaro kian dilirik pengunjung, sekedar berwisata, beribadah, atau mendalami misteri yang terkandung di dalamnya. Atas keanekaragaman budaya, Pulau Kemaro resmi ditetapkan sebagai salah satu objek wisata andalan Kota Palembang.

Transportasi

MENUJU Pulau Kemaro tidaklah sulit. Ada dua rute yang dapat ditempuh. Pertama mengarungi Sungai Musi dengan naik kapal wisata atau perahu getek dari Dermaga Benteng Kuto Besak, di samping Jembatan Ampera. Tarif berkisar antara Rp 20.000 sampai 50.000. Lama perjalanan sekitar 30 menit. Angkutan wisata Sungai Musi di atas tidak langsung ke Pulau Kemaro tetapi juga singgah di objek wisata lainnya dengan rute perjalanan BKB-Ki Merogan-Kampung Kapitan-Bagus Kuning- Pulau Kemaro-Masjid Lawang Kidul-BKB. Namun kalau mau langsung ke Pulau Kemaro, pemilik kapal tentu akan melayani dengan senang hati.




Kedua melalui jalan darat ke Dermaga Intirub di Kelurahan Sungai Lais, Kecamatan Kalidoni, Palembang. Jaraknya sekitar dua kilometer dari PT Pusri. Di dermaga telah menunggu perahu getek dengan biaya berkisar Rp 30.000 hingga Rp 50.000. Perahu getek yang memuat enam penumpang ini biasanya akan mengelilingi Pulau Kemaro, mampir, dan pulang ke dermaga lagi. Kalau hanya minta antar menyeberang, waktunya tidak lebih dari lima menit. (Sriwjaya Post/Aang Hamdani)

http://id.88db.com/

AMPERA, Golden Gate-nya Indonesia

Ini dia Golden Gate nya Indonesia, Ampera, yup...landmark Kota Palembang tercinta, apalagi klo dilihat waktu malem...indah skaleeeeeeeeee. Nih cerita awalnya...sejarah x ye...





Gagasan untuk membangun jembatan untuk menyatukan daerah hulu dan hilir atau dikenal sebagai "Seberang Ulu dan Seberang Ilir," yang telah dipisahkan oleh Sungai Musi di Palembang sebenarnya telah ada sejak 1906. Ketika Le Cocq de Ville menjadi walikota Palembang pada tahun 1924, ide ini muncul lagi dan banyak upaya dilakukan untuk membuat ide ini menjadi kenyataan. Namun bahkan sampai akhir Le Cocq waktu itu tidak dapat tercapai. Jembatan yang tidak pernah dibangun selama penjajahan Belanda. Setelah diperoleh dengan Kemerdekaan Indonesia, ide muncul sekali lagi. Dalam sesi pleno pada 29 Oktober 1956, Transisi Daerah DPR untuk kota Palembang diusulkan untuk membangun jembatan. Kemudian disebut Jembatan Musi karena membelah sepanjang Sungai Musi. Proposal ini dianggap gegabah karena anggaran yang tersedia hanya Rp 30.000,00. Pada 1957, komite yang dibentuk, yang terdiri dari laksamana Komandan Militer untuk Wilayah IV / Sriwijaya, Harun Sohar, dan gubernur Sumatera Selatan, HA Bastari, walikota Palembang, M. Ali Amin, dan Indra Caya. Tim ini mendekati Bung Karno agar mereka bisa mendapatkan dukungan untuk membangun jembatan. Sehubungan dengan upaya pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan pemerintah Palembang, yang didukung sepenuhnya oleh Komandan Militer dari Wilayah IV / Sriwijaya, mereka mendapat respon positif. Bung Karno menyetujui proposal untuk membangun Jembatan Musi. Dia setuju karena posisi jembatan yang akan di pusat kota. Bung Karno menetapkan satu kondisi untuk perjanjian ini. Pada setiap akhir jembatan, jalan raya yang harus dibangun. Maka perusahaan yang ditunjuk pemerintah untuk melaksanakan pembangunan dengan menandatangani kontrak dengan perusahaan yang pada 14 Desember 1961. Biayanya USD 4.500.000 (mata uang saat itu adalah USD 1 = Rp 200,00). Biaya ini akan dibayar untuk reparations perang dari Jepang. Proyek ini dimulai pada bulan April 1962 dan selesai pada bulan Mei 1965. Tetapi masyarakat Palembang menyebutnya Ampera Jembatan Musi Proyek sampai akhir tahun 1970an. Jembatan, yang merupakan konstruksi baja diperkuat oleh kabel baja, 1.100 meter panjang 22 meter dan lebar. Enam kaki yang telah dikuburkan sedalam 75 meter. Ada dua menara di atasnya dengan ketinggian 75 meter. Jarak antara menara adalah 71,5 meter. Bagian tengah dari jembatan adalah 11,5 dari meter air saat air surut dan 8 meter saat air pasang. Tengah bagian dari jembatan bisa naik ketika sebuah kapal ingin melewati, dan naik hingga 63 meter dari air. Hanya dengan kapal dari ketinggian 9 meter untuk 44,5 meter dan lebar 60 meter bisa lewat. Untuk mengangkat 994 ton, dua ballasts dari 450 ton digunakan pada dua menara. Kecepatan jembatan dapat di buka adalah 10 meter per detik.




Nah, klo yang ini Ampera jadul banget...

Senin, 01 Desember 2008

Film Kartun Curious George



Aha...ini dia salah satu film kartun favorit saya, yup...Curious George. Dulu waktu lagi zaman2nya nyusun laporan akhir, sering bgt bahkan slalu nton ni film, bagus sih & lucu. Film ini bercerita tentang seekor monyet yang berasal dari Afrika, dia bersama sahabatnya si pria bertopi kuning, tupai dan si anjing hanly.

Curious George senang menginvestigasi dunia disekitarnya karena dia menemukan berbagai hal yang mengagumkan. Mulai dari hal-hal yang dapat dikenali, tidak dapat dikenali, ataupun hal-hal yang tidak bisa dia mengerti.

Tubuhnya yang kecil tidak menghalangi keinginannya yang besar untuk berpetualang. Sahabatnya, pria bertopi kuning senantiasa memandunya berpetualang. Mereka menghabiskan waktu bersama untuk bermain dan membaca buku bersama.

Doraemon



Film kartun dari jepang ini ga ada habisnya karena selain ada seri petualangan juga disertai komik(karangan Fujiko. F Fujio) yang anak-anak sangat suka membacanya. hingga sekarang film ini selalu menjadi favorit anak-anak karena menyajikan kisah yang lucu :D bahkan menurut survei anak muda dan orang tuapun masih banyak yang menyukai film ini termasuk saya(jadi malu). film ini menceritakan seorang kucing ajaib(takut sama tikus) yang tersesat kerumah seorang anak culun bernama Nobita yang sering dijahili temannya jaian dan suneo. dengan alat-alatnya yang canggih dan belum pernah saya liat di kenyataan dia membantu si Nobita, supaya tidak diganggu. namun seringkali si Nobita menggunakan alat tersebut untuk hal yang aneh dan iseng seperti menarik perhatian sizuka, menjahili temannya, berbuat curang, menghindari suruhan ibunya untuk belajar dll :D namun jika kita perhatikan maka setiap kali Nobita menjadi nakal maka akhirnya selalu sial, beda ketika dia berbuat baik maka akhirnya beruntung. mungkin sang sutradara ingin mengajar anak-anak untuk menjadi baik dan tidak jahil terhadap temannya. Oia sudah tahu akhirnya gimana belum?? wah kalau tahu pasti anda semua ketawa atau kecewa. namun walaupun ada endingnya tapi film ini tidak akan berakhir karena tiap saat selalu ada pemikiran baru tentang alat baru apa saja yang akan dikeluarkan selanjutnya. misalnya handphone pengontrol pesawat :D yang dulu tak mungkin terpikirkan kerena memang belum ada handphone. pokoknya nih film bisa ngikutin perkembangan zaman.

Dikutip dari ispart.wordpress.com